Bagian 3
"Ada saatnya ibu cerita semua padamu, Rosi. Tapi tidak sekarang. Saat ini yang terpenting bagaimana menolong adikmu. Hanya ginjal ayahmu yang bisa menolong adikmu. Sampai saat ini ibu tidak pernah tahu keberadaan ayahmu. Ibu tidak pernah bertemu ayahmu sejak menitipkanmu di panti. Keluarga ayahmulah yang tahu di mana ayah berada. Ibu tidak pernah diberi tahu". Wanita itu bercerita.
"Temui pamanmu, Nak ..., beliau yang tahu di mana keberadaan ayahmu. Ibu tidak bisa menemanimu. Mereka sudah mendzalimi ibu, Nak. Kalau ibu yang turut campur semua akan kacau. Pergilah, ibu menjaga Reva di sini". Lanjutnya.
Apapun yang disampaikan wanita itu, Rosi tak peduli lagi. Yang terpenting adalah mencari ayahnya demi keselamatan Reva.
"Semoga berhasil, Rosi. Kami menunggumu di sini", ucap wanita itu lirih. Rosi mengacuhkannya sambil berlalu pergi.
*****
"Reva, andai nyawa ibu bisa menyembuhkanmu, ibu ikhlas, Nak".
Tangis Aida pecah. Penyesalan yang tak berujung timbul di hatinya. Kalau saja mertuanya yang matre itu tidak mengancam akan memisahkan dia dan anak-anaknya, iya tak 'kan meninggalkan mereka di panti. Berharap bisa menyembunyikan kedua buah hatinya dari kejaran mertuanya. Hingga akhirnya ia tidak menemukan anak-anaknya di panti iti lagi. Pengasuh panti tempat ia menitipkan kedua anaknya sudah tiada. Dan entah apa kisah kedua anaknya setelah itu. Yang jelas ia sangat marah saat itu. Anak hilang, rumah tangganya berantakan. Ibu mertuanya selalu menuduh kalau ia yang menjauhkan Ray suaminya dari keluarga. Ray tidak mau membiayai hidup ibunya yang janda karena hasutan Aida. Sampai-sampai Aida difitnah sudah selingkuh dengan laki-laki lain. Dan Ray percaya. Berlalu pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Aida. Tidak hanya itu, ibu mertuanya berusaha merebut anak-anak dan memisahkannya dengan Aida. Sampai saat ini ia tidak tahu bagaimana kabar suaminya. Yang jelas saat inj hatinya bahagia bercampur sedih. Bahagia bisa bertemu anak-anaknya tetapi dalam keadaan seperti ini.
*****
"Mari ikut denganku". Ajak laki-laki itu kepada Rosi. Rosi mengikuti langkah kaki laki-laki tegap itu ke sebuah rumah kecil. Sepi. Sepertinya tidak ada penghuni di dalam rumah itu. Hati dan tubuhnya sudah lelah. Mulai dari mencari ibunya, kemudian mencari tahui keberadaan pamannya demi mencari ayahnya.
*****
"Ke kampung itu Andro biasanya pergi". Ujar orang-orang komplek tempat tinggal ayah dan neneknya. Ia tidak nekad mencari tahu langsung ke rumah ayahnya. Walaupun alamat lengkap sudah diberikan ibunya. Bukan tidak berani. Tapi tidak mau membuang-buang waktu dan mendapatkan masalah baru dari neneknya. Setidaknya Rosi mendengar perkataan ibunya. Rosi lebih memilih bertanya pada warga komplek tentang pamannya, Andro. Untung saja warga komplek mau bekerjasama dengannya.
(bersambung ...)
Daftar Blog Saya
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 September 2018
KANAN DAN KIRI
Bagian 1
Bergegas Rosi mengikuti langkah kaki sosok tegap di depannya. Sambil berjinjit agar suara sepatunya tidak terdengar. " Kalau bukan karena Reva yang terbaring sakit, tak 'kan kulakukan ini", gumamnya.
Reva, adik kesayangannya harus terbaring di rumah sakit menunggu pendonor ginjal yang tepat. Bertahun-tahun Rosi menunggu saat ini, pendonor ginjal yang tepat untuk adiknya. Selangkah lagi keinginannya akan tercapai.
Kemudian Rosi terhenti dan terkejut. Sosok tegap itu membalikkan badannya dan memandangnya dengan tatapan marah. "Kamu siapa? Kamu mengikuti saya sedari tadi ..., kamu mau apa?", Ujarnya dengan tatapan masih marah. Kumis tebalnya membuat Rosi makin cemas. Sosok tegap di depannya itu mulai mendekati dan dengan rasa campur aduk Rosipun menjawab terbata-bata. " Saya ..., A ..Ak ..Aku .. eh Saya saya Rosi, ma .. maaf ..., maksud saya ...mau saya ..". Rosi bingung harus memulai dari ana. " Saya orang baik-baik, Pak. Tidak ada niat jahat sedikitpun".Ujar Rosi yang sudah bisa mengendalikan hatinya. "Saya hanya ingin adik saya sembuh", Rosi berkata lirih.
"Maksudnya?, dan apa hubungannya denganku?". Laki-laki itu mulai heran dengan sikap Rosi.
Rosi menurunkani tas yang disandangnya, diambilnya dompet bermotif girly untuk kemudian mengambil sebuah foto lusuh di dalamnya. Sedetik kemudian foto itu sudah berada di genggaman tangan laki-laki itu.
Terlihat rona kaget di wajah laki-laki itu. Dia bergumam tak jelas. Kemudian bertanya : " Mengapa ada foto keluarga Herman denganmu. Kamu ...?". Dia tak dapat melanjutkan pertanyaannya. Matanya mulai sayu dan berkaca-kaca. Perlahan disandarkannya tubuhnya ke sebuah pohon yang ada di belakangnya.
"Saya Rosi, anak yang digendong laki-laki ini di foto ini, Pak ..., entah kemana lagi saya harus mencari ayah. Dengan kondisi Reva sekarang ini, hanya ayah satu-satunya orang yang bisa membantu kondisi Reva saat ini ...". Rosi sudah patah arang. Diceritakannya keadaan Reva yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Antara berharap dan pasrah disampaikannya keinginannya pada laki-laki itu. Lalu handphone Rosi berdering, "Dari rumah sakit, Mbak Rosi ..., adek mbak kritis, mohon dipercepat donornya ya mbak .., terima kasih".
(bersambung ...)
Bergegas Rosi mengikuti langkah kaki sosok tegap di depannya. Sambil berjinjit agar suara sepatunya tidak terdengar. " Kalau bukan karena Reva yang terbaring sakit, tak 'kan kulakukan ini", gumamnya.
Reva, adik kesayangannya harus terbaring di rumah sakit menunggu pendonor ginjal yang tepat. Bertahun-tahun Rosi menunggu saat ini, pendonor ginjal yang tepat untuk adiknya. Selangkah lagi keinginannya akan tercapai.
Kemudian Rosi terhenti dan terkejut. Sosok tegap itu membalikkan badannya dan memandangnya dengan tatapan marah. "Kamu siapa? Kamu mengikuti saya sedari tadi ..., kamu mau apa?", Ujarnya dengan tatapan masih marah. Kumis tebalnya membuat Rosi makin cemas. Sosok tegap di depannya itu mulai mendekati dan dengan rasa campur aduk Rosipun menjawab terbata-bata. " Saya ..., A ..Ak ..Aku .. eh Saya saya Rosi, ma .. maaf ..., maksud saya ...mau saya ..". Rosi bingung harus memulai dari ana. " Saya orang baik-baik, Pak. Tidak ada niat jahat sedikitpun".Ujar Rosi yang sudah bisa mengendalikan hatinya. "Saya hanya ingin adik saya sembuh", Rosi berkata lirih.
"Maksudnya?, dan apa hubungannya denganku?". Laki-laki itu mulai heran dengan sikap Rosi.
Rosi menurunkani tas yang disandangnya, diambilnya dompet bermotif girly untuk kemudian mengambil sebuah foto lusuh di dalamnya. Sedetik kemudian foto itu sudah berada di genggaman tangan laki-laki itu.
Terlihat rona kaget di wajah laki-laki itu. Dia bergumam tak jelas. Kemudian bertanya : " Mengapa ada foto keluarga Herman denganmu. Kamu ...?". Dia tak dapat melanjutkan pertanyaannya. Matanya mulai sayu dan berkaca-kaca. Perlahan disandarkannya tubuhnya ke sebuah pohon yang ada di belakangnya.
"Saya Rosi, anak yang digendong laki-laki ini di foto ini, Pak ..., entah kemana lagi saya harus mencari ayah. Dengan kondisi Reva sekarang ini, hanya ayah satu-satunya orang yang bisa membantu kondisi Reva saat ini ...". Rosi sudah patah arang. Diceritakannya keadaan Reva yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Antara berharap dan pasrah disampaikannya keinginannya pada laki-laki itu. Lalu handphone Rosi berdering, "Dari rumah sakit, Mbak Rosi ..., adek mbak kritis, mohon dipercepat donornya ya mbak .., terima kasih".
(bersambung ...)
Langganan:
Postingan (Atom)
Merayakan Hari Ulang Tahun Riau yang ke - 67 bersama POLSEK Kec. Senapelan
Kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun Provinsi Riau di SMA Negeri 7 Pekanbaru berlangsung Khidmat. Pada saat kegiatan rutin Upacara Bendera...